juragan minyak vs pemulung



Paduan bahan-bahan terbaik asli Indonesia, memberikan kemantapan dan kenikmatan khas Bentoel Biru yang terkenal sejak dulu”. Celoteh Kuntadi ketika membaca tulisan di punggung bungkus rokok favoritnya. Padahal otaknya sedang mblayang. “Andai saja suatu saat aku dapat membeli rokok favoritku sebanyak satu bak truk, dari penghasilanku sebagai pengusaha minyak, meski sekarang bapakku masih sebagai pedagang minyak keliling, tapi aku besok kan sudah bisa jadi juragan minyak!” Katanya dalam hati. Saat ini Kuntadi adalah salah satu dari ratusan santri yang sedang menimba ilmu di pondok pesantren di desa karang kedampel. Di dalam kamar tinggalnya, Kuntadi sedang tengkurap sambil melamunkan satu bak truk rokok favoritnya. Di sebelahnya, ada Aryasena yang sedang duduk sembari memperhatikan putung rokok yang berceceran di lantai kamarnya, bersama Kuntadi. Kata Aryasena dalam hati, “Andai saja putung-putung rokok itu aku kumpulkan, dan kujual, katakanlah satu hari dapat lima ribu, berarti sebulan sudah dapat seratus lima puluh ribu, berarti, setahun sudah dapat berapa?. Wah jadi ngga’ kuat mikirnya”. Maklum, Aryasena adalah anak melarat sejak dalam kandungan. Bapaknya sudah meninggal sejak kelahiran anak ke lima belas yang tak lain adalah Aryasena itu sendiri. Sedang ibunya hanya sebagai pedagang sego pecel di kampung halamannya.
Terlihat berdua, tapi kok saling berdiam seakan tak saling kenal, maka Kuntadi pun membuka percakapan dengan Aryasena, “Eh sena, Aryasena, sedang melamun apa to?. Kira-kira seruan mana sama yang aku lamunkan?”. “Aku hanya sedang ngelantur. Seperti biasa, sedang ngelamun dapat uang banyak dari hasil menjual putung rokok. Hitung-hitung memanfaatkan barang buangan. Kaya’ orang Jepang, berkreasi dari barang buangan.” Aryasena bercerita tentang apa yang sedang dilamunkannya. Mendengar itu, Kuntadi langsung menyahut,“Tapi kenapa mesti kaya’ orang Jepang ? Lha wong mereka itu bisa seperti sekarang kan cuma hasil jajahan saja. Toh itu pun ngga’ lepas dari jasa orang Indonesia yang dulu ikut nyumbang tenaga kerja (paksa) ke orang Jepang itu. Masih mending orang Indonesia, biar sudah dikuras kekayaannya oleh penjajah tapi sampai sekarang juga tetap makmur!”. Aryasena pun langsung kasih timpal, “Tapi kita lihat sekarang, orang Indonesia bisa apa? Buat makan saja berasnya nempil dari negara lain. Prestasinya saja hanya sebagai negara ter-korup. Orang-orang pinternya, yang katanya selalu menang lomba teknologi di luar negeri, sampai sekarang tak juga memunculkan karyanya buat masyarakat. Malah mentok-mentoknya jadi TKI ke luar negeri. Bahkan mantan presiden kita saja, sekarang ada yang jadi TKI di Jerman. Kalau separah itu, mana mungkin Indonesia bisa makmur?!”. Menyimak apa yang dikatakan Aryasena, Kuntadi hanya bisa manggut-manggut. Lalu dia nyelimur, “eh, tadi aku belum cerita apa yang aku lamunkan. Aku tadi ngelamun andai kata aku besuk bisa jadi juragan minyak. Aku mau beli rokok favoritku sebanyak satu bak truk. Asyik kan?”. “ Ah, kalau hanya ngelamun jadi juragan, aku sih juga bisa!” Sahut Aryasena meledek. “Daripada kamu, masa’ cita-cita jadi pemulung? Mending aku, bisa jadi juragan!” Kuntadi balas meledek. “Iya, tapi kan maksudku baik. Setidaknya aku tak hanya bercita-cita dapat membeli rokok satu truk. Tapi lebih dari itu, aku bisa membantu usaha ibuku. Sukur-sukur bisa bikin lapangan pekerjaan” Aryasena kembali menyahut. “Lha terus kenapa?” Kuntadi bertanya jengkel. “Ya mestinya kita sadar, kita seharusnya prihatin atas situasi negara kita sekarang. Lah wong kenyataannya sedang bobrok, kok dibilang makmur. Masa’ aku dengar, jama’ah haji Indonesia di tanah suci saja sekarang sedang kelaparan. Itu bukti kalau Indonesia sudah mulai ‘tak mampu’ nempil beras. Atau bisa jadi, uang buat nempil beras itu digasak sama orang-orang yang punya prestasi korup”. “Nah, melihat keadaan seperti itu masa’ kita hanya bengong? Sebagai orang Indonesia, mestinya kita ikut prihatin, apalagi kita adalah santri. Punya cita-cita mbok ya jangan cuma buat kepentingan sendiri, mestinya juga harus mikirin bangsa, negara, plus agama!” Aryasena begitu panjang memberi tutur kata. Sampai-sampai Kuntadi menjadi jengkel mendengarnya. “Ya sudah, kita stop saja ngobrolnya. Puyeng aku mendengarnya. Aku mau ngelamun lagi aja...” Kuntadi menutup pembicaraan dengan perasaan dongkol, sambil kembali berbaring dan menutup wajahnya dengan bantal. Dia melanjutkan lamunannya. ZZZ...ZZZ...(*)

0 komentar:

Posting Komentar